Bukan Rujak Bukan Petis, Bukan Juklak Bukan Juknis


Bukan Rujak Bukan Petis, Bukan Juklak Bukan Juknis

Bukan Rujak Bukan Petis, Bukan Juklak Bukan Juknis
Bukan Rujak Bukan Petis, Bukan Juklak Bukan Juknis

Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati (QS 4:4)

Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati (QS 4:4)

Dua paragraf pembuka di atas adalah terjemahan teks Al-Quran Surah An-Nisaa’ ayat 4. Paragraf pertama adalah terjemahan Departemen Agama RI. Terjemahan ini menambahkan klausa yang kamu nikahi (cetak miring oleh penulis) di belakang kata perempuan (terjemahan dari al-nisaa’): sebuah klausa yang tidak disebutkan secara tersurat dalam teks aslinya. Artinya, terjemahan ini mempertegas cakupan makna kata “perempuan” sebagai perempuan (yang kamu nikahi), bukan perempuan-perempuan lain. Dengan demikian, ayat ini ditujukan kepada para lelaki yang hendak menikahi perempuan. Pada paragraf kedua, klausa yang kamu nikahi dihilangkan. Penghilangan ini menjadikan ayat tersebut lebih terbuka dan mengundang beragam penafsiran.

Demikianlah, memang terdapat dua penafsiran berkaitan dengan sasaran pembicaraan (mukhatab) ayat di atas: apakah ia ditujukan untuk para orang tua atau wali perempuan, ataukah untuk para lelaki yang (hendak) menikahi para perempuan. Terjemahan Depag RI di atas bersesuaian dengan pendapat beberapa penafsir seperti Al-Thabari, Al-Khazin, atau Al-Qurthubi. Hanya saja, seperti jamaknya ulama klasik (salaf) lain, ulama-ulama penafsir ini menyajikan dan membuka ruang diskusi bagi penafsiran lain. Penafsir lain, seperti Jalaaluddin Al-Suyuthi atau Al-Razi, bahkan membiarkan pembacanya melakukan penafsiran sendiri. Sementara Imam Jalaauddin tidak menyodorkan sasaran pembicaraan secara spesifik, Imam Al-Razi menyajikan kedua penafsiran di atas beserta argumentasi masing-masing tanpa mengukuhi salah satu di antaranya.

Pendapat bahwa sasaran pembicaraan ayat di atas adalah para lelaki yang hendak menikahi perempuan didasarkan pada pertimbangan konsistensi dengan ayat sebelumnya. Beberapa klausa seperti wa in khiftumfankihuu, atau fa in khiftumpada Surat An-Nisa’ ayat 3 jelas ditujukan kepada para lelaki yang (hendak) menikahi perempuan. Maka ayat sesudahnya semestinya juga berbicara pada sasaran yang sama. Sebagaimana dicatat oleh Al-Razi, pendapat ini dipegang oleh Al-’Alqamah, Al-Nakha’i, dan Qataadah.

Pendapat lain, yaitu yang menyatakan bahwa Surat An-Nisaa’ ayat 4 ditujukan kepada para orang tua atau wali perempuan, berdasarkan catatan Al-Razi, dipegang oleh Al-Kalbi, Abu Shalih, Al-Farra’, dan Ibnu Qutaibah. Pendapat ini didasarkan pada konteks sejarah turunnya ayat tersebut. Imam Jalaaluddin Al-Suyuthi dalam Lubaab ’l-Nuqul fi Asbaab ’l-Nuzul mengutip ucapan Abu Shalih bahwa ayat tersebut adalah respon terhadap kebiasaan masyarakat Arab yang menguasai seluruh mahar dari proses pernikahan anak-anak perempuan mereka, tanpa menyisakan sedikit pun bagi anak-anak mereka tersebut. Al-Thabari menguraikan adanya praktik syighar di kalangan masyarakat Arab waktu itu. Praktik ini adalah semacam barter perempuan di mana seorang lelaki, dalam posisinya sebagai wali, menikahkan saudara atau famili perempuannya dengan lelaki lain dengan imbalan ia bisa menikahi saudara atau famili perempuan lelaki lain tersebut. Kompensasi yang diperoleh kedua lelaki ini adalah bahwa keduanya tidak perlu membayar mahar. Lewat Surat An-Nisaa’ ayat 4, Al-Quran menentang keras praktik semacam ini.

Penulis cenderung mendukung pendapat terakhir atas dasar beberapa alasan.

Pertama, kedekatan dua atau beberapa ayat tidak selalu menunjukkan hubungan semantis. Satu ayat sebelumnya jelas ditujukan kepada para lelaki dalam konteks hubungan suami istri, sementara satu ayat setelahnya berbicara kepada para wali anak-anak yatim berkaitan dengan pengelolaan harta mereka. Begitulah keunikan Al-Quran. Ia bisa saja berbicara satu topik tertentu pada satu ayat, kemudian mengubah topik pembicaraan pada satu ayat setelahnya, sementara topik pertama diperjelas, diperluas, atau diberi batasan-batasan pada bagian yang relatif jauh dari ayat tersebut. Seperti persoalan maskawin, selain dibahas pada QS 4:4, ia juga dibahas antara lain pada QS 4:24-25, QS 33:50, dan QS 60:10. Keseluruhan ayat yang disebut belakangan ditujukan kepada para lelaki yang hendak menikahi perempuan, namun tidak lantas berarti QS 4:4 juga harus dibaca seperti ini. Persoalan yang identik dengan QS 4:4 dalam hal ”pengaturan harta maskawin” adalah QS 4:24. Ayat ini menyatakan bahwa maskawin yang telah dijanjikan oleh seorang lelaki kepada seorang perempuan boleh ”ditambah, dikurangi, atau tidak dibayar sama sekali” asal disepakati oleh keduanya, demikian Tafsir Jalalayn yang diikuti oleh terjemahan Depag RI. Tetapi banyak ulama berpendapat bahwa ayat ini menyoal nikah mut’ah (kawin kontrak) yang berlaku pada awal perkembangan Islam dan kemudian dilarang (bdk. Al-Thabari, Al-Khazin, Al-Razi). Bagi yang sepakat dengan mekanisme naskh atau penghapusan (hukum) suatu ayat, maka Ibnu Hizam mencatat ayat ini sebagai salah satu ayat yang menurut banyak ulama, termasuk Imam Idris As-Syafii, telah dinaskh.

Kedua, bunyi ayat dan konteks sejarah QS 4:4 saling memperkuat. Agak aneh bila Al-Quran menyuruh lelaki memberikan maskawin kepada seorang perempuan dan pada saat yang sama menyediakan mekanisme pembagian maskawin di antara keduanya, sementara pada banyak kesempatan pemberian maskawin sangat dipermudah: tidak ditentukan jumlahnya menurut sebagian besar ulama, boleh hanya berupa gelang atau cincin besi menurut sebuah hadits ternama, dan boleh dihutang. Maka QS 4:4 akan ”enak” dipahami sebagai revolusi penguasaan harta maskawin: dari para orang tua dan lelaki-wali-perempuan ke tangan perempuan sendiri.

Anda bebas memilih salah satu di antara dua pendapat di atas. Kedua pendapat memiliki rujukan yang sama-sama kuat sehingga Anda tidak perlu khawatir dicap sesat oleh Bakor Pakem bila mengkuti atau tidak mengikuti salah satunya. Titik berat tulisan ini adalah: jangan memandang sebelah mata sejarah! Pembacaan sejarah menjadikan Al-Quran dan Islam lebih dari sekadar juklak dan juknis (petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis).

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/speed-legends-apk/