susu

Efek Buruk Terlalu Banyak Minum Susu

Susu yang baik dan buruk untuk tubuh saat ini kontroversial. Organisasi kesehatan mendukung konsumsi susu karena baik untuk pertumbuhan tulang dan kesehatan. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa susu memiliki efek buruk pada tubuh. Selain itu, ada juga beberapa kondisi pada orang yang tidak bisa mengonsumsi susu. Apa kemungkinan efek negatif dari susu? Simak penjelasan berikut.
Mengapa susu belum tentu baik untuk tubuh?

Selain banyak fungsinya, terkadang susu juga memiliki dampak negatif pada tubuh. Beberapa orang bahkan disarankan untuk tidak menjadikan susu sebagai sumber utama kalsium bagi tubuh mereka. Ada beberapa alasan mengapa susu mungkin bukan sumber kalsium terbaik untuk semua orang, yaitu:

1. Intoleransi laktosa (intoleransi laktosa)

Orang yang memiliki intoleransi laktosa tidak disarankan untuk menjadikan susu sebagai sumber kalsium bagi tubuh mereka. Susu dan produk olahan susu seperti keju, yogurt dan produk susu lainnya mengandung laktosa (gula susu) yang akan dicerna oleh enzim yang disebut laktase. Namun, laktase dalam tubuh seseorang bervariasi jumlahnya. Beberapa orang tidak dapat mencerna laktosa dengan baik dari susu karena mereka hanya memiliki sedikit enzim laktase dalam tubuhnya. Kondisi ini disebut intoleransi laktosa.
Bagi orang yang memiliki intoleransi laktosa, makan atau minum produk susu dapat menyebabkan masalah dengan kram, kembung, penyerangan dgn gas beracun, dan diare. Gejala-gejala ini dapat bermanifestasi dari ringan hingga berat.
Jadi bagaimana orang dengan intoleransi laktosa memenuhi kebutuhan kalsium mereka? Salah satu caranya adalah makan sumber kalsium selain susu, seperti sayuran berdaun hijau (seperti brokoli, lobak hijau, dan pokcoy), dengan ikan India (seperti ikan sarden dan ikan teri), kacang-kacangan (seperti kedelai dan almond).
Jika Anda masih ingin makan susu, carilah susu yang telah ditambahkan ke enzim laktase, susu rendah laktosa atau susu bebas laktosa. Bagi mereka yang memiliki intoleransi laktosa, minum porsi kecil susu tampaknya ditoleransi oleh tubuh. Mereka juga masih bisa mengonsumsi susu fermentasi, seperti yoghurt, produk susu atau kandungan lemak tinggi, seperti mentega (de Vrese, et al., 2001). Namun, kondisi ini bervariasi dari orang ke orang.

2. Alergi susu

Bagi mereka yang memiliki alergi susu, susu jelas memiliki dampak negatif. Alergi dalam susu sapi sering ditemukan pada bayi dan anak kecil. Alergi ini terjadi pada anak-anak yang memiliki tingkat antibodi yang tinggi terhadap susu sapi di dalam darah. Sensitivitas terhadap susu sapi sangat bervariasi di antara anak-anak yang memiliki alergi susu. Beberapa anak mengalami reaksi yang berat setelah mencerna susu. Orang lain mungkin memiliki reaksi lebih ringan setelah mencerna lebih banyak susu.
Untuk menghindari dampak, hindari makanan dan minuman yang mengandung susu sapi dan produk susu sapi lainnya. Anda dapat membaca label pada setiap bungkus makanan atau minuman sebelum membelinya.
Apa perbedaan antara alergi susu dan intoleransi laktosa? Alergi susu adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan terhadap protein susu. Ketika protein susu dicerna, protein ini dapat merangsang reaksi alergi mulai dari reaksi ringan (seperti munculnya ruam, gatal-gatal dan pembengkakan) hingga reaksi yang berat (seperti kesulitan bernapas dan kehilangan kesadaran). Berbeda dengan alergi susu, laktosa intoleransi adalah reaksi yang disebabkan oleh kekurangan laktase untuk mencerna susu, bukan karena sistem kekebalan tubuh.

3. Menyebabkan jerawat

Kebanyakan remaja pasti memiliki jerawat di wajah mereka. Salah satu makanan atau minuman yang bisa menyebabkan jerawat adalah susu atau produk yang mengandung protein whey. Dalam susu mengandung insulin dan hormon pertumbuhan IGF-1. Kedua faktor ini bisa memicu timbulnya jerawat. Peningkatan insulin atau IGF-1 dalam tubuh dapat menandakan faktor-faktor yang dapat menyebabkan jerawat pada wajah (Melnik, 2011).

4. Kemungkinan peningkatan risiko kanker

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi susu dapat meningkatkan risiko kanker, seperti kanker indung telur dan prostat. Analisis gabungan dari 12 studi kohort prospektif yang melibatkan lebih dari 500.000 wanita menemukan bahwa wanita dengan asupan laktosa yang tinggi, yaitu setara dengan tiga gelas susu sehari, risiko kanker ovarium sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita yang memiliki asupan laktosa terendah. . Studi ini tidak menemukan hubungan antara susu atau produk susu dengan kanker ovarium. Beberapa peneliti telah berhipotesis bahwa praktik produksi susu dalam industri modern telah mengubah komposisi hormon dalam susu

Baca Juga: