Fungsi agama dalam kehidupan manusia


Fungsi agama dalam kehidupan manusia

Agama memberikan makna kepada individu tentang kehidupan dirinya, identitas diri, serta kebersamaan dalam kehidupan kemasyarakatannya.

Dalam fungsi maknawi , menurut M.I. Soelaeman (1988) sbagai berikut: ‘ bila manusia mengakui dan daalam hidupnya berpegang pada religie(agama) yang dianutnya dengan segala kesungguhan, hidup insani akan tampil secara prinsipal berlainan dengan hidup hewani. Hidupnya tidak akan terombang-ambing diawang-awang. Ia akan tahu untuk apa ia hidup, siapa yang dihadapinya, dan tujuannya.”

Dalam fungsi identitas, agama memberikan identitas diri bagi individu. Dengan menyadari  idntitasnya itu, seseorang akan bersikap dan berperilaku. Penganut suatu agama adalah suatu pernyataan diri, pernyataan identitas, pernyataan siapa dirinya, apa yang dijadikannya landasan dan tugas hidupnya, bagaimana pandangannya terhadap manusia dan terhadap dunia, apa yang dijadikanya prioritas dalam realisasian kehidupanya.

Di smping itu agama berfungsi juga sebagai pendukung adat istiadat dan memperkuat keutuhan isistem nilai sosial yang relefan dan semakna dengan nilai agama. Dengan demikian, nilai-nilai ini akn lebih lestari dan mantap.

Akhirnya, peran dan fungsi agama, dalam kehidupan manusia dapat berfariasi, bergantung pada struktur sosial, kebudayaan masyarakat, dan karateristik dari masing-masing agama sendiri. Agama dalam kehidupan manusia berfungsi sebagai suatu sistem nilai yang meuat orma-norma tertentu. Secara umum, norma-norma tersbut menjadi kelangkah acuan dalam bersifat dan bertingkah laku agar sejalan dengan keyakinan agama yang dianutnya. Sebagai sistem nilai, agama memiliki arti yang khursus dalam kehidupan manusia serta dipertahankan sebagai bentuk ciri khas.

Hubungan filsafat dan Agama

Adapun klasifikasi filsafat menurut latar belakang agama :

  1. Filsafat Islam

Filsafat Islam bukanlah filsafat Timur Tengah. Bila memang disebut ada beberapa nama Yahudi dan Nasrani dalam filsafat Timur Tengah, dalam filsafat Islam tentu seluruhnya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih mencari Tuhan, dalam filsafat Islam justru Tuhan sudah ditemukan.
Pada mulanya filsafat berkembang di pesisir samudera Mediterania bagian Timur pada abad ke-6 M yang ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menjawab persoalan seputar alam, manusia, dan Tuhan. Dari sinilah lahirlah sains-sains besar, seperti fisika, etika, matematika, dan metafisika yang menjadi batubara kebudayaan dunia.
Dari Asia Minor (Mediterania) bergerak menuju Athena yang menjadi tanah air filsafat. Ketika Iskandariah didirikan oleh Iskandar Agung pada 332 SM, filsafat mulai merambah dunia timur, dan berpuncak pada 529 M.

Baca juga: