Latar Belakang Timbulnya Pergolakan di Libanon

Latar Belakang Timbulnya Pergolakan di Libanon

Latar Belakang Timbulnya Pergolakan di Libanon
Sebelum terbentuknya Libanon Raya pada th. 1920, yaitu kala masih berupa sanjaq, yang disebut Libanon sebenarnya hanya mencakup tempat pegunungan yang didominasi orang-orang Maronit & Druze. Tetapi kala membentuk Libanon raya, Prancis memasukkan termasuk daerah-daerah lain yang didominasi oleh golongan-golongan di laur Maronit & Druze. Misalnya lembah Biqa yang didominasi oleh orang-orang Syiah & Katholik Yunani, daerah-daerah pantai yang didominasi orang-orang Sunni & Ortodoks Yunani, daeah selatan yang dihuni orang-orang Syiah, serta tempat utara di mana orang-orang Sunni merupakan mayoritas. Akibatnya, di Libanon tidak tersedia group mayoritas dalam arti yang sebenarnya. Maronit sebagai group terbesar hanya mencakup 30% berasal dari jumlah penduduk Libanon secara keseluruhan.

Prancis pada saat itu sebenarnya tidak membawa pilihan lain. Libanon yang hanya terdiri atas tempat pegunungan tidak cukup berarti berasal dari aspek ekonomis. Daerah-daerah di luar pegunungan, khususnya tempat pantai cukup potensial untuk membuahkan sumber devisa yang lebih besar. Tetapi dengan mengkombinasikan tempat pegunungan & tempat pantai, Prancis telah menanamkan benih-benih perpecahan di Libanon, sebab idaman golongan Maronit yang berharap sebuah negara Libanon di mana tampil sebagai group mayoritas telah tidak tersedia lagi, tetapi Prancis memaksakan tampilnya golongan Maronit sebagai kemampuan sosial politik yang paling dominan yaitu melalui Pakta Nasional 1943.

Pakta Nasional (Al-Mitsq Al-Wathani) 1943, pada lain mengatur bahwa presiden harus berasal berasal dari golongan Maronit, perdana Menteri berasal dari golongan Sunni, & ketua parlemen berasal dari golongan Syiah. Parlemen yang berjumlah 99 orang terdiri atas 30 Maronit, 20 Sunni, 19 Syiah, 11 Ortodoks Yunani, 6 Druze, 6 Katholik Yunani, 5 Armenia & 2 untuk kristen lainnya. Fakta ini merupakan sebuah perjanjian tidak tertera atau konvensi yang disponsori oleh Prancis & disetujui termasuk oleh pemimpin golongan Maroni, Bisyara Al-Khuri & pemimpin golongan Sunni, Riyad Al-Sulth.

Pakta Nasional 1943 dibuat berdasarkan sensus yang diadakan pada th. 1932. Sensus 1932 yang termasuk diadakan oleh Prancis membuahkan komposisi komunitas keagamaan Libanon sebagai berikut; Golongan Maronit berjumlah 261.043 orang (30% berasal dari jumlah penduduk Libanon), golongan Sunni 182.842 orang (21%), Syiah 158.425 (18%), Ortodoks Yunani 90.275 (10%), Druze 56.812 (6,5%), Katholik Yunani 52.602 (6%), Armenia 34.296 (4%), Kristen lainnya 14.065 (2%), & Yahudi 10.469 (1%). Jadi Pakta Nasional 1943 sebenarnya merupakan suatu pengabsahan berasal dari pembagian penduduk Libanon berdasarkan latar belakang keagamaan.

Dalam pertumbuhan setelah itu golongan Muslim menuntut supaya pembagian kekuasaan yang berlaku selama ini ditinjau kembali. Berkat laju pertumbuhan yang lebih tinggi, golongan Muslim menjadi telah menjadi lebih banyak jumlahnya berasal dari pada kaum Kristen supaya menuntut bagian kekuasaan yang lebih besar. Akan tetapi golongan Kristen dengan beraneka dalih menolak tuntutan itu & mengusahakan sekuat tenaga mempertahankan status Quo yang menjamin kedudukan dominan dalam pemerintahan. Selama ini golongan Kristen termasuk menolak tiap tiap usaha untuk mengadakan suatu sensus sebab cemas hasilnya dapat membetulkan klaim golongan Muslim bahwa golongan Muslim telah menjadi mayoritas & oleh sebab itu termasuk berhak atas kedudukan yang lebih kuat. golongan Muslim lantas bertekad untuk memakai kekerasan fungsi membantu klaim mereka.

Ketimpangan sosial menjadi benih-benih lain berasal dari konflik Libanon. Prancis yang memegang mandat atas Libanon sejak Perang Dunia ke-1 hingga 1943, lebih memperhatikan golongan Maronit berasal dari pada golongan-golongan lainnya. Hal ini disebabkan oleh hubungan pada orang-orang Maronit & orang-orang Prancis telah terkait sejak awal abad ke-12, yaitu kala golongan Maronit membantu pasukan Salib berasal dari Prancis. Perhatian spesifik Prancis kepada golongan Maronit, khususnya di bidang pendidikan, memicu timbulnya golongan Maronit sebagai komunitas paling terpelajar di Libanon. Sebagai konsekuensinya, mereka pun memegang fungsi perlu di sektor sosial ekonomi. Dengan begitu, golongan Maronit tidak hanya menjadi kemampuan politik paling dominan, tetapi termasuk menjadi kemampuan sosial ekonomi yang pilih di Libanon.

Setelah merdeka pada th. 1943, Libanon mengalami kemajuan di bidang sosial ekonomi. Sebab letaknya di pinggir Laut Tengah, Libanon menjadi transit arus laju lintas perdagangan berasal dari Asia, Afrika & Eropa. Dua pertiga GNP Libanon berasal berasal dari sektor jasa, khususnya perbankan. Sebelum pecah perang saudara, Libanon merupakan pusat perbankan & perdagangan paling perlu di Timur Tengah & keliru satu yang paling penting di dunia. Sektor-sektor lain yang beri tambahan sumbangan perlu pada ekonomi Libanon adalah industri, pertanian, & pariwisata.

Dalam kenyataannya, kemajuan ekonomi justru membuahkan ketimpangan sosial. Hanya segelintir penduduk Libanon benar-benar nikmati keuntungan berasal dari kemajuan ekonomi negaranya. Pada th. 1960, menurut laporan resmi pemerintah, hanya 4 persen penduduk Libanon tergolong benar-benar kaya, 14 persen penduduk termasuk kategori kaya, 32% mendapatkan penghasilan sedang, & 50% penduduk lainnya hidup dalam kemiskinan. Sebanyak 32% berasal dari penerimaan negara hanya dinikmati 18% berasal dari penerimaan negara. Laporan resmi pemerintah pada th. 1969 mengatakan bahwa 50% tenaga kerja melacak nafkahnya di sektor pertanian (11% berasal dari GNP), & 20% bekerja di sektor jasa (67% berasal dari GNP), & 20% bekerja di sektor industri (22% berasal dari GNP). Ketimpangan sosial itu jadi potensial sebagai keliru satu penyebab utama konflik di Libanon sebab golongan kaya pada umumnya terdiri atas orang-orang Kristen, khusunya Maronit, saat orang-orang Islam, khususnya golongan Syiah & Druze pada umumnya hidup dalam kemiskinan.

Faktor terakhir yang menjadi akar konflik di Libanon adalah Kedatangan orang-orang Palestina. Hal ini tidak lepas berasal dari diproklamasikannya negara Israel pada th. 1948 yang didirikan di atas lokasi Libanon Selatan. Sejak saat itu, orang-orang Palestina yang tidak mau hidup di bawah pemerintahan Israel menjadi memasuki lokasi Libanon. Perang Arab-Israel yang berjalan pada th. 1956, 1967, & 1973 memicu jadi banyaknya orang Palestina yang mengungsi ke Libanon. Pada th. 1940 jumlah pengungsi Palestina di Libanon sekitar 127.800 orang, th. 1967 sekitar 160.723, th. 1972 sekitar 182.941 & pada 1980-an diperkirakan tersedia sekitar 300.000 orang Palestina di Libanon. Pada th. 1975 jumlah penduduk Libanon diperkirakan sekitar 3.140.000 orang. Ini berarti jumlah orang Palestina yang tersedia di Libanon mendekati 10% berasal dari jumlah penduduk Libanon. Di Libanon orang-orang Palestina berada di bawah lindungan komisi pemberian PBB atau UNRWA.

Dua persoalan yang timbul di Libanon akibat Kedatangan orang-orang Palestina bervariasi Islam Sunni, supaya Kedatangan mereka tidak cukup disenangi oleh golongan Kristen, khususnya Maronit sebab Kedatangan mereka dapat mengganggu perimbangan kaum kemampuan pada Kristen & Islam di Libanon. Sebaliknya golongan Islam, khususnya Sunni terima baik Kedatangan orang-orang Palestina berdasarkan solidaritas keagamaan. Kedua, sejak perang Arab-Israel 1967 & moment September Hitam di Yordania th. 1970, orang-orang Palestina menjadi satu kemampuan politik yang cukup tangguh di Libanon. Sejak saat itu yang datang di Libanon bukan hanya orang-orang Palestina berasal dari kalangan sipil, tetapi termasuk para gerilyawan yang bersenjata. Mereka tidak jarang melancarkan serangan ke lokasi Israel. Begitu termasuk sebaliknya, Israel sebagai balasan termasuk sering melancarkan serangan ke lokasi yang dihuni orang-orang Palestina di Libanon Selatan supaya mengakibatkan persoalan keamanan dalam negeri Libanon.

Sumber : https://materisekolah.co.id/contoh-teks-eksplanasi-pengertian-ciri-struktur-kaidah-kebahasaan-dan-contoh-lengkap/

baca juga :