Media Sebagai Sarana “Berbalas Pantun”


Media Sebagai Sarana “Berbalas Pantun”

Media Sebagai Sarana “Berbalas Pantun”

Media Sebagai Sarana “Berbalas Pantun”
Media Sebagai Sarana “Berbalas Pantun”

Sebenarnya, pemberitaan media barat maupun islam saat ini mengalami problem yang sama; yaitu banyaknya distorsi dan misrepresentasi. Media barat terlalu bersemangat menyebarkan visi kelompok islam “tertentu” sebagaimana media massa Islam melakukan hal yang sama dalam melihat Barat. Padahal, tidak dapat dipungkiri bahwa keduanya, media massa Barat-Islam, bukanlah representasi dari entitas yang homogen. Pada saat media barat mencitrakan Islam dan media Islam, vise versa, keduanya membentur kultur media masing-masing yang kompleks. Kondisi ini semakin memperlancar upaya menampilkan “the other side” dari kedua belah pihak. Gejala distorsi image yang keliru, sepertinya, memperkokoh pikiran bahwa keduanya, media barat melihat islam-media islam melihat barat, sedang melakukan generalisasi yang berlebihan

Islam via media Barat
Ada kecenderungan kuat pada media massa Barat untuk “mencap” Islam sebagai agama kekerasan [mis. hukuman potong tangan], yang menindas perempuan, yang menantang ide-ide Barat [ mis. kebebasan, demokrasi, HAM, dll ]. (a)Islam sama dengan politik.; (b) politik islam sama dengan fundamentalisme; (c) fundamentalisme sama dengan terorisme; (d) kekerasan politik ditafsirkan tanpa mempertimbangkan konteks social dan politik.5

Pencitraan semacam ini sebenarnya langsung “menyentuh” masalah utama yang harus diselesaikan. Keberadaan fundamentalisme ekstrim dan meningkatnya sikap intoleran dan dogmatisme yang berlindung di bawah nama tuhan menjadi hambatan serius bagi pengembangan dunia Islam dan peningkatan hubungan Islam-Barat. Tetapi pencitraan media, nampaknya, hanya berhenti pada kesan negatif tanpa dibarengi dengan keseimbangan dalam mempersepsikan Islam sebagai agama kedamaian yang secara histories terbukti toleran, sebagai system religio cultural yang menyatukan seperlima penduduk bumi.

Sejak peristiwa 11 September 2001, warga Amerika , yang lebih banyak menonton serial TV dibanding berita, film dokumenter maupun tayangan pendidikan, telah diserbu dengan drama TV tentang terorisme dan agen kontra teroris. Mayoritas dari program hiburan semacam ini jarang sekali yang memotret bangsa Arab atau kaum muslimin selain teroris atau beragam cerita seputar terorisme. Citra permanen yang hendak dibangun atas islam oleh banyak warga amerika adalah negatif. Hampir semua polling menunjukkan bahwa persentase terbesar Amerika percaya bahwa Islam menganjurkan kekerasan. Polling yang diadakan oleh Pew Research Center for The People and The Press tahun 2005 menemukan bahwa 36% warga non muslim menyatakan Islam tidak lebih menganjurkan kekerasan bagi pemeluknya dibandingkan agama lain.

Akibat pencitraan semacam ini ketakutan dan stereotype di bangsa Barat semakin menguat dari hari ke hari. Kepanikan moral mereka memenuhi “frame sensasional”. Laporan-laporan kejahatan yang dilakukan oleh Islam radikal mempunyai nilai berita, laporan-laporan tentang kemampuan muslim hidup bersama diantara beragam komunitas terabaikan. “Ketidak akraban” jurnalis terhadap kultur muslim dan “bias” yang dialami oleh para pemilik media menjadi factor pendorong banyaknya distorsi dan misrepresentasi dalam pencitraan islam di media.

Baca Juga :