Meneladani Filosofi Pohon Pisang


Meneladani Filosofi Pohon Pisang

Meneladani Filosofi Pohon Pisang

Meneladani Filosofi Pohon Pisang
Meneladani Filosofi Pohon Pisang

Mas kalau kepenginn hidup tenang, hiduplah seperti pohon pisang”

. Mas nek pengen uripmu trentrem, urip po koyok wet gedang. Begitu kata seorang tua di sebuah kebun.

Lho, kenapa hidup tenang harus seperti pohon pisang?
Iya itu hanya nasehat. Bisa diterima bisa juga tidak. Tapi bila mau direnungkan sejenak, mungkin ada benarnya nasehat itu. Hidup seperti pohon pisang. Sebut saja, filosofi pohon pisang.
Pohon pisang itu, sama sekali tidak butuh tempat khusus untuk tumbuh. Maka pohon pisang bisa tumbuh dimana pun. Di tempat gersang, di tempat dingin bahkan di tempat yang hambar sekalipun pohon pisang tetap bisa tumbuh. Pohon pisang selalu survive di mana pun, berusaha tetap hidup dan tidak menyerah dalam segala keadaan. Lalu manusia, kenapa harus cengeng di saat punya masalah?

Hebatnya lagi. Pohon pisang itu tidak mau mati sebelum berbuah

. Ia ingin kehadirannya di dunia ini bisa memberi manfaat sebelum ajal menjemputnya. Semasa hidupnya, pohon pisang harus terus berkarya, menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Tidak peduli dalam keadaan apa pun. Pohon pisang hanya berjuang untuk berbuah walau ia tidak akan menikmati hasil perjuangannya. Maka begitu pun manusia seharusnya, jangan pernah meninggalkan suatu tempat tanpa meninggalkan karya yang baik. Berbuat baik di mana pun. Karena sewaktu-waktu, tiap manusia bisa saja “terpaksa” meninggalkan suatu tempat secara tiba-tiba dan tidak bisa ditunda lagi.

pisang6 .png

Filosofi pohon pisang, selalu memberi manfaat kepada siapapun

Pohon pisang itu keren, Karena seluruh bagian tubuhnya punya manfaat. Mulai dari akar, batang, daun, pelepah daun, apalagi buahnya. Bahkan ketika buah masih mentah pun bisa dibuat keripik. Manusia pun begitu, ada dan hidup untuk memberi manfaat kepada orang lain. Selagi mampu, selagi bisa berbuatlah untuk menebar manfaat kebaikan kepada siapa pun.
Tidak sekedar itu, pohon pisang pun selalu mampu mempersiapkan generasi penerus. Sebelum ia ditebas mati. Selalu ada tunas baru yang siap tumbuh di sampingnya. Tunas-tunas muda yang akan meneruskan tugasnya memberi manfaat kebaikan pada siapapun. Maka hikmahnya, manusia yang katanya punya akal pikiran harusnya bisa berbuat dan bermanfaat yang tak lekang oleh waktu. Hidup bukan hanya untuk cari makan. Tapi hidup pun perlu memberi manfaat.

 

Sumber :

https://www.kakakpintar.id/