Mengenal Zero Waste: Bermain Sambil Belajar Bersama Anak Usia TK

Mengenal Zero Waste: Bermain Sambil Belajar Bersama Anak Usia TK

Sebagai ibu, apakah kita jijik menyaksikan sampah berserakan di mana-mana? Atau pusing sebab sampah lokasi tinggal tangga yang baunya menyengat? Bayangkan andai bumi semakin diisi sampah, pasti tidak nyaman guna ditinggali. Itulah kenapa, edukasi lingkungan hidup semestinya diajarkan semenjak dini pada anak. Misalnya, ketika mereka berusia 4 hingga 6 tahun atau saat bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK). Salah satu konsep yang dapat diajarkan ialah zero waste. Ingin tahu lebih lanjut? Simak, yuk.

Apa tersebut zero waste?

Zero waste ialah suatu konsep lingkungan hidup yang mengacu pada prinsip 3R, yakni reduce, reuse dan recycle. Intinya yaitu teknik untuk mengubah sampah lokasi tinggal tangga supaya tidak mencemari lingkungan hidup, sampai-sampai tercipta lingkungan bersih bebas sampah. Di sejumlah negara maju, zero waste bahkan dirasakan sebagai gaya hidup.

Lalu, apa yang dapat dilakukan orang tua supaya anak-anaknya peduli zero waste? Mudah saja, kerjakan pemisahan sampah organik dan non organik mulai dari rumah. Dan supaya anak tidak bingung, Anda dapat mengajaknya bermain seraya belajar mengenal konsep ini.

Memilah sampah dengan teknik menyenangkan

Dunia anak ialah dunia bermain. Maka bakal lebih gampang untuk mengajari anak sesuatu melewati metode bermain seraya belajar. Meskipun agak rumit bahasannya namun dengan bermain, anak jadi hendak sekali dan penasaran.

Belajar dari kitab bergambar

Ibu juga dapat membelikan anak kitab mengenai sampah. Contohnya kitab yang mengandung cerita supaya anak tidak melemparkan sampah sembarangan dan mulai mengenal pemisahan sampah. Jika susah mendapatkannya di toko buku, kenapa tidak menciptakan saja kitab bergambar sendiri? Ibu bisa menggambar dengan krayon atau pensil warna di kitab gambar besar. Tulis teks di bawah gambar, tidak banyak saja. Gunakan kalimat simpel.

Gambarkan sampah non organik (sampah yang dapat didaur ulang laksana botol bekas, kertas, kaleng, dan lain-lain), sampah organik (sampah saldo sayur, buah, kulit telur dan sebagainya), keranjang sampah, dan Tempat Pembuangan Sampah (TPA). Lalu, bacakan kisah tersebut untuk anak. Jika anak senang menggambar, ibu pun dapat menyuruh mereka menggambar bersama-sama.

Membiasakan anak memilah sampah

Setelah mengajarkan untuk anak teknik memilah sampah, tahapan selanjutnya ialah dengan mempraktikkannya. Setiap kali melemparkan sampah ke keranjang, sisihkan antara sampah organik dan non organik. Lakukan kegiatan membuang sampah tersebut secara teratur dan kreatif. Misalnya, dengan melakukan pembelian keranjang sampah yang bertolak belakang warna, guna sampah organik dan non organik. Pilih keranjang yang bentuknya menarik atau gambar figur kartun, supaya anak tertarik melakukan kegiatan itu.

Hal tersebut pun dapat diterapkan di sekolah. Apalagi andai anak melakukannya bareng teman-teman sekelas. Pasti dia senang. Oh ya, andai sekolah TK anak kita belum merealisasikan zero waste, coba mengemukakan usul untuk pihak yang berwenang di sekolah.

Aktivitas mendaur ulang sampah

Apabila ibu punya masa-masa luang, ajak anak bermain seraya mengutak-atik sampah non-organik. Ambil satu botol bekas, isi dengan batu, daun kering, bunga, atau pernak-pernik kesenangan anak. Minta dia mencatat botol dengan namanya sendiri. Jika anak masih belajar menulis, pegang tangannya dan beri contoh. Atau gambar saja botol tersebut dengan karakter lucu, laksana boneka atau mobil-mobilan. Beri warna-warna terang supaya botol tampak indah.

Sumber : http://www.rosoftdownload.com/get/download/windows/avira-antivir-personal-free-antivirus/?url=//www.pelajaran.co.id