Minimnya Buku Di Tengah Minat Baca Anak Perbatasan Yang Tinggi

Minimnya Buku Di Tengah Minat Baca Anak Perbatasan Yang Tinggi

Data dari hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016 mengindikasikan 46,83 persen pelajar ruang belajar 4 SD tergolong tidak cukup mampu membaca.

Handoko Widagdo, Manajer Provinsi INOVASI Kalimantan Utara (Kaltara) mengatakan, angka itu berbanding terbalik dengan hasil Survei Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (SIPPI) tahun 2017 dimana minat baca murid kelas mula di Kabupaten Bulungan dan Malinau telah menjangkau 85 persen.

Menurutnya, urusan tersebut diakibatkan minimnya ketersediaan kitab non pembelajaran yang terdapat di sekolah.

“Dari 4.055 judul kitab yang terdapat di perpustakaan sekolah, melulu 393 judul yang cocok dengan ruang belajar awal,” ujarnya

INOVASI adalahProgram kemitraan Pemerintah Australia dan Indonesia dalam rangka mengetahui cara-cara untuk menambah hasil pembelajaran murid di sekolah-sekolah yang terdapat di sekian banyak kabupaten di Indonesia, khususnya dalam hal keterampilan literasi dan numerasi (calistung).

Bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, INOVASI menjalin kemitraan dengan 17 kabupaten yang tersebar di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur.

Sarinah, Ketua Gerakan One Person One Book, atau gerakan menyumbang satu kitab untuk murid sekolah dasar di Kabupaten Bulungan menyatakan miris dengan fakta betapa minimnya ketersediaan kitab di sekolah dasar di distrik perbatasan Kalimantan Utara.

Saking minimnya ketersediaan buku, kitab paket latihan yang seharusnya wajib dipunyai oleh siswa pun menjadi barang langka di sekolah.

“Realitanya anak-anak sekolah ini suka membaca. Bisa membaca kitab paket latihan saja mereka telah senang sekali, sebab ternyata kitab itu satu-satunya kitab cetak yang terdapat di sekolah mereka. Dan tersebut dipegang oleh guru,” katanya.

Selama 3 tahun terakhir, melewati gerakan one person one book Sarinah menyatakan telah menerima lebih dari 3.500 judul kitab sumbangan dari penduduk yang sudah disalurkan ke 5 perpustakaan di sekolah dasar di pelosok distrik perbatasan yang menjadi partner mereka.

Sayangnya, melulu sekitar 30 persen kitab sumbangan itu yang cocok untuk umur anak sekolah. “Bahkan sumbangan kitab LKS bekas paling berarti untuk anak-anak di perbatasan sebab kebanyakan kitab sumbangan tersebut berupa majalah dan kitab umum,” imbuhnya.

Terganjal aturan

Sofie Dewayani dari Yayasan Litara, di antara yayasan yang memelopori lahirnya kitab bacaan yang cocok untuk anak-anak mengatakan, di tengah minimnya ketersediaan kitab bacaan guna anak, terdapat kecenderungan dari orangtua ketika membeli kitab memilih kitab yang tingkat kesulitannya setingkat di atas keterampilan anak membaca.

Alasannya kitab tersebut bakal lebih lama dibaca. Padahal anak-anak umur 4 hingga 9 tahun lebih ingin menyukai kitab yang lebih tidak sedikit gambarnya ketimbang kitab yang tidak sedikit tulisannya guna dipahami.

“Untuk merasakan bacaan tidak melulu cerita, tapi pun menikmati gambar. Kami sedang kampanyekan itu,” ucapnya. Sejak berdiri tahun 2014, Litara sudah menelurkan 25 judul kitab yang cocok dengan kebutuhan kitab anak-anak. Litara pun menggandeng pengarang dan illustrator yang memahami keperluan anak dari sebuah kitab yang mereka baca.

Sayangnya upaya menggandeng penerbit pata tahun 2015 untuk mengeluarkan 15 judul kitab anak anak karya mereka mengalami tantangan bersangkutan harga buku. Litara ingin kitab anak anak mempunyai kualitas bagus dengan harga murah.

“Harga kitab jatuhnya kemahalan, anda belum menghitung penyaluran yang menjangkau 60 persen . Akhirnya kita menciptakan yayasan sendiri yang mengeluarkan dan mendistribusikan kitab anak-anak,” jelasnya.

Sejumlah kitab anak anak yang diterbitkan Litara dapat dikategorikan memungut tema yang tidak komersil menurut keterangan dari penerbit, sebab menghadirkan cerita dengan ilustrasi oriental klasik khas Indonesia seperti cerita anak-anak terpencil suku Dayak di Kalimantan.

Upaya Litara dengan menerbitkan kitab yang cocok dengan keperluan anak dengan mengesampingkan nilai komersil kesudahannya membuahkan hasil, dimana kitab yang mereka terbitkan mempunyai pangsa pasar tersendiri.

“Padahal pasar butuh diedukasi bersangkutan kitab anak. Penerbit komersil tidak berani memungut risiko dengan menerbitkan kitab dengan ilustrasi oriental klasik Indonesia, anda berani memungut risiko itu,” ujar Sofie.

Buku terbitan Litara bahkan sempat mejeng di ajang pameran kitab bergengsi sejagat Frankfurt Book Fair 2018 di Jerman. Hasilnya, sebanyak Negara kepincut dengan tampilan kitab yang diterbitkan Litara sebab ilustrasi dalam buku sukses menyampaikan pesan untuk anak anak di negara beda meski kisah yang dikatakan berasal dari Indonesia.

“5 kitab akhir bulan ini bakal launching di Thailan guna even pameran kitab anak. Singapura pun meminta misal PDF kitab dari Litara guna dikaji,” kata Sofie.

Sayangnya upaya mendapatkan evaluasi dari Pusat Kurikulum dan Perbukuaan (Puskurbuk) Kemendikbud masih terganjal sebanyak instrumen evaluasi yang masih mencantumkan kitab anak-anak sama dengan kitab pelajaran.

Meski demikian melewati pendekatan yang dilaksanakan program INOVASI dengan menjembatani pengarang dan penerbit kitab anak laksana Litara dengan Kemendikbud akan mengemban workshop pada mula Bulan Desember 2018 mendatang.

Melalui workshop itu Kemendikbud bakal segera menambah susunan judul kitab yang diperlukan siswa kelas mula untuk menambah minat dan ketrampilan menyimak siswa.

Sumber : http://www.seelensturm.net/wcf/acp/dereferrer.php?url=http%3A%2F%2Fwww.pelajaran.co.id