Pemikiran Mohammed Arkoun.


Pemikiran Mohammed Arkoun.

Perhatian Arkoun sangat besar terhadap persoalan Islam yang intinya dapat dikelompokkan dalam pemikiran islam yaitu masalah kemasyarakatan, pemahaman terhadap kitab suci, pengertian etika, serta kaitannya antara islam dan modernitas. Arkoun dalam studinya ia menggunakan pendekatan ilmu sosial untuk memahami Islam sebagai suatu agama yang dianut oleh masyarakat majemuk di zaman modern.

Dalam Islamisasi pengetahuan Barat, Arkoun mempunyai wewenang dan keunikan sendiri dalam menggagas pemikirannya, ia sangat memahami seluk beluk tentang Barat. Kebanyakan pemikirannya terilhami gagasan-gagasan Barat kontemporer, dan juga upaya untuk menghidupkan pemikiran dalam model atau corak baru.[6] Arkoun menganjurkan untuk melakukan usaha pembebasan atas pemikiran Islam dari kejumudan dan ketertutupan dengan pendekatan kajian historis dan kritis dan dengan perangkat pemikiran ilmu pengetahuan Barat mutakhir. Pemikirannya banyak mengarah kepada usaha para peneliti Islam yang mendekati Islam melalui karya-karya tulis dari berbagai tokoh klasik. Mengenai hal yang menyangkut pemikiran logis dan rasional seperti fiqh, terutama Teologi agar melampaui batas studi Islam Tradisional; Hal tersebut tampak bahwa tulisan Arkoun memusatkan perhatian pada tokoh- tokoh besar seperti Miskawaih dan tokoh lainnya.

Landasan utamanya adalah pengetahuan modern yang menjadi pendekatan Arkoun terhadap Islam. Karena, menurutnya sejarah masyarakat islam sangat berkaitan dengan masyarakat Barat. Tidak ada dikotomi antara pemikiran Barat dengan pemikiran Islam. Keduanya harus dihargai. Keduanya perlu dievaluasi, mengingat konteks sejarah ada rumpun dalam “kelompok ahli-ahli kitab” yang menurutnya untuk merevormasi universalitas tanpa merusak partikularitas.[7] Perkembangan mutakhir tentang pemikiran ilmu-ilmu keislaman, telah menerima ilmu ushul fiqih dalam fungsi metodologi projektifnya merupakan suatu dukungan ilmiah dan intelektual bagi sifat agama dalam hukum Islam. Suatu dekontruksi kritis gagasan dan tipe rasionalitas penting untuk secara modern menilai kembali wahyu sebagai gejala budaya dan sejarah yang komplek. Arkoun mendorong adanya islamologi terapan dalam pengembangan pemikiran dan nalar Islam. Menurutnya, berbagai karya klasik saat itu menjadi kajian  penting masyarakat Barat. Suatu pendekatan atau metodologis yang tidak mungkin terabaikan adalah bahwa ada nasib kesejarahan antara barat dan Islam dalam konteks historis.

Catatan penting dalam pemikiran Arkoun adalah tentang perlunya kesadaran dan daya kritis tinggi untuk mencermati khasanah pengetahuan Barat yang dipakai dalam mengkaji nilai Islam. Ia sebenarnya punya filterisasi atas barat untuk memadukannya dengan Islam. Pisau analisisnya adalah perangakat teoritis barat yang digunakannya untuk mengislamisasikan nilai yang terbaratkan. Arkoun juga ingin menyatukan semua perbedaan identitas sesama umat Islam, bahkan dengan nonmuslim. Mencitrakan Islam baik isi nilai keislaman maupun muatan permukaan dari umatnya, agar persepsi yang keliru dari masyarakat barat terhadap islam dapat dihilangkan. Arkoun mencitrakan Islam bukan dengan cara menonjolkan islam dalam keanekaragaman, tapi Islam yang Islami dalam kesatuan.

RECENT POSTS