Prinsip – Prinsip Dasar


Prinsip – Prinsip Dasar

Prinsip – Prinsip Dasar

Prinsip – Prinsip Dasar
Prinsip – Prinsip Dasar
  1. Karakteristik dasar
  2. Prosedur yang sistematis dan terdokumentasi
  3. Obyektif dan independent
  4. Kriteria Audit
  5. Pembuktian dan pengujian fakta
  6. Laporan audit
  7. Kunci keberhasilan
  • Dukungan Pimpinan
  • Keikut – sertaan semua pihak
  • Kemandirian dan obyektivitas auditor
  • Kesepakatan tentang metodologi dan lingkup audit antara auditee dan auditor
  1. Sifat Kerahasiaan
  2. Pengawasan Mutu Hasil Audit Lingkungan dan Kualifikasi Auditor
  3. Peran dan tanggung jawab tim audit

Contoh kasus Audit Lingkungan:

  1. BaritoPacific Timber Tbk. dan PT. Binajaya Rodakarya telah memperoleh akreditasi ISO 14001, standar internasional untuk sistem manajemen lingkungan (EMS). Akreditasi diberikan pada tanggal 20 Maret 2000 dan berlaku selama tigatahun dari tanggal tersebut “sesuai dengan implementasi berkesinambungan yang memuaskan dari sistem manajemen operator” (BVQI ISO 14001 Sertifikat # 66596).BVQI (Bureau Veritas Quality International) melaksanakan audit sertifikasi dan akanterus melaksanakan audit-audit eksternal EMS pada interval enam bulanan. Auditberikutnya dijadwalkan pada bulan Februari 2001.

Sebagai bagian dari proses ISO 14001, perusahaan ini memperbaiki penyelenggaraanlingkungan perusahaannya dan menyusun prosedur kerja untuk mencapai tujuanini. Juga sebagai bagian dari proses tersebut, perusahaan telah melaksanakan danakan terus melaksanakan audit internal untuk memastikan EMS diimplementasikansecara efektif, dan untuk mengidentifikasi cara-cara yang menjamin perbaikan berkesinambungan dari penyelenggaraan lingkungan perusahaan.

Meskipun Tinjauan Lingkungan Awal (Initial Environmental Review) yang dilaksanakan sebagai bagian dari proses ISO 14001, departemen lingkungan perusahaan mengeluarkan laporan foto yang memperinci contoh-contoh dari kegiatanmanajemen tidak baik yang mendapat perhatian selama pemeriksaan. Laporan inididistribusikan kepada kepala-kepala departemen dengan instruksi agar memperbaikikeadaan ini. Audit internal dilaksanakan bulan Juli 2000 yang berlaku sebagaimekanisme untuk menjamin bahwa semua perbaikan telah dilakukan danmengidentifikasi perbaikan yang masih belum selesai atau baru. Tujuannya adalahuntuk membuat laporan foto lanjutan berdasarkan audit bulan Juli. Tetapi sejauhini belum tercapai. Selama audit juga banyak contoh pelaksanaan manajemen tidakbagus yang didapat dari laporan foto, ternyata masih dijumpai di lingkunganperusahaan.

BVQI melaksanakan audit eksternal EMS selama bulan Agustus 2000, dan selama itu ada beberapa poin persoalan yang mendapat perhatian, yaitu:

  • Kontroldebu yang tidak layak,
  • TotalPadatan Tersuspensi (TSS) di log pond masih terlalu tinggi. Rencana-rencana kerja untuk mengurangi polusi log pond perlu diperbaiki,
  • Mengurangilimbah kayu dan memperbaiki tingkat pemulihan kayu di arealutama yang memerlukan perbaikan segera, dan
  • Tidakadanya bukti pengawasan emisi cerobong asap, bau atau pengawasanvibrasi.

Semenjak audit eksternal telah ada tinjauan internal dari persoalan-persoalan ini,yang menghasilkan saran perbaikan dan mengidentifikasi orang-orang yang bertanggung jawab melaksanakan perbaikan tersebut. Masih belum ada tindakansampai sekarang dan persoalan-persoalan ini masih terbuka.

Penerimaan ISO 14001 seharusnya dipandang sebagai langkah positif dalam menjamin peningkatan penyelenggaraan lingkungan PT. Barito Pacific Timber Tbk.dan PT. Binajaya Rodakarya. Namun demikian, yang harus dilaksanakan untukmenjaga akreditasi adalah mengambil langkah untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan manajemen di lapangan secara berkesinambungan, terutama di tempat-tempat dimana limbah kayu menjadi perhatian.

Temuan Audit :

  1. LimbahKayu

Limbah kayu merupakan persoalan kritis di PT. Barito Pacific Timber Tbk. dan PT.Binajaya Rodakarya, dan diidentifikasi BVQI sebagai salah satu dari persoalan-persoalan utama yang memerlukan perhatian melalui EMS ISO 14001. Selamatinjauan lapangan terdapat banyak buangan dari sumber alamiah, yaitu kayu, selama proses produksi. Hal ini meliputi:

  • kayuyang dibuang selama proses penggergajian dalam jumlah banyak
  • jumlahkayu gelondongan yang membusuk sebelum dipakai. Kebijakan “pertamadatang, pertama diolah” (first in first out) harus diimplementasikan agar kayudigunakan sebelum rusak,
  • kerusakankayu gelondongan karena kulit kayu dibiarkan melekat, membiarkan vetebrata merusak log-log yang menyebabkan tingkat pemulihan rendah, dan
  • sejumlah besarproduk akhir, terutama kayu papan, ditumpuk di tempat terbukadalam jangka waktu yang lama dan kemungkinan tidak bisa dijual.

Kebanyakan kulit kayu dan beberapa limbah kayu lain saat ini dibuang ke tanahrawa untuk mereklamasi tanah tersebut. Areal ini kelihatannya tidak memilikitumbuhan dan dari segi estetika tidaklah menarik. Selain itu, areal-areal yangsebelumnya dipakai untuk pembuangan limbah kayu nampaknya tidak ber- regenerasi dengan cepat, dan pembakaran secara bebas menimbulkan persoalankualitas udara.

  1. Air

Fasilitas perusahaan PT. Barito Pacific Timber Tbk. dan PT. Binajaya Rodakarya letaknya berdekatan dengan sejumlah anak sungai. Di sebelah timur, pabrik berbatasan dengan, dan menggunakan, sungai Barito. Di sebelah utara adalah sungaiAndjir Soebardjo. Handil Sungai Barito, anak sungai kecil dari sungai Barito,mengalir ke arah timurlaut dari pabrik. Areal pabrik dan daerah luar kota disekelilingnya rendah letaknya dan mudah kebanjiran.

Kepada auditor ditunjukkan keseimbangan air semua areal pengolahan pabrik (kecuali penggergajian yang tidak menggunakan air dalam aktifitasnya). Keseimbangan air menunjukkan bahwa sebagian air pengolahan dipompa dari sungai Barito.

Staf lapangan menunjukkan bahwa mereka tidak menemukan adanya kontaminasi air permukaan yang berhubungan dengan pabrik. Namun demikian, selama tinjauanke lokasi tercatat adanya kontaminasi hidrokarbon sungai Barito di sekitar log ponddan areal penggergajian. Lapisan minyak di permukaan air berasal dari derek, relconveyor dan chainsaw tarik. Terdapat sejumlah minyak dan pelumas di bawahperalatan ini, yang tidak mempunyai tempat pengeringan lain selain log pond dansungai.

Sungai Barito juga dipakai para staf untuk mandi dan mencuci. Sabun dan deterjenakan mengkontaminasi sungai. Selain itu, di sungai juga ditemukan sampah. Tidakjelas darimana asalnya, bisa saja berasal dari lokasi-lokasi lain.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/