runtuhnya kerajaan mataram kuno


runtuhnya kerajaan mataram kuno

 

Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Mataram periode Jawa Timur

Mataram Jawa Timur (Medang Kamulan) berdiri pada abad 10 atau setelah runtuhnya Mataram periode Jawa Tengah. Berdirinya kerajaan ini diawali dengan adanya Wangsa Isana. Istilah Wangsa Isana di temukan dalam prasasti Pucangan di bagian yang berbahasa Sansekerta pada tahun 963 Saka. Bagian yang berbahsa Sansekerta itu dimulai degan penghormatan kepada Brahmana, Wisnu, dan Siwa kemudian penghormatan kepada Raja Airlangga. Selanjutnya dilanjutkan dengan silsilah kerajaan dimulai dari Raja Isanatunggaatau Pu Sindok. Sri Isanatungga mempunyai putri Sri Isanatunggawijaya dan menikah dengan Sri Loka Pala kemudian mempunyai anak Sri Makutawangsawarddhana keturunan Wagsa Isana.[1]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Wangsa Isana didirikan oleh Pu Sindok atau Sri Isanawikramma Dharmmotunggadewa yang masih menjadi keturunan dari Wangsa Syailendra.Namun, kedudukan Pu Sindok masih diberdebatkan. Ada yang berpendapat bahwa Pu Sindok adalah menantu Wawa (raja terakhir Mataram Jawa Tengah ), selain itu ada yang berpendapat bahwa Pu Sindok bergelar abhiseka yang mengandung unsur kata dharma menunjukkan bahwa raja yang bergelar itu naik tahta karena perkawinan.[2]
2. Masa pemerintahan Pu Sindok
Berdirinya Mataram periode Jawa Timur adalah lanjutan dari keruntuhan kerajaan Mataram periode Jawa Tengah.Dalam anggapan para pujangga hal ini adalah sebagai pralaya atau kehancuran dunia pada akhir masa Kaliyuga. Maka, sesuai dengan landasan kosmologis, kerajaan kuno tersebut harus mendirikan kerajaan lagi. Kemudian, Pu Sindok membangun kerajaan di Jawa Timur dan sebagai cikal bakal Wangsa Isana namun dengan nama yang sama, Mataram.
Ibu kota kerajaan Mataram terletak di Tamwlang dengan bukti yang terdapat pada prasasti Turryan ( tahun 851 Saka / 929 M ), dengan kemungkinan sekarang dekat Jombang, tepatnya desa Tambelang. Tetapi, dalam prasasti Paradah dan Anjukladang juga disebutkan bahwa ibu kota kerajaan terletak di Watugaluh, sekarang desa Watugaluh dekat Jombang tepi kali Brantas. Prasasti Anjukladang dibuat seabagai anugerah dari Pu Sindok kepada penuduk desa Anjukladang. Namun, karena pada bagian atasnya using menyebabkan ketidak jelasan apa penyebab dari anugerah yang diberkan tersebut.
3. Masa Pemerintahan Sri Maharaja Dharmmawangsa Teguh
Setelah pemerintahan Pu Sindok berakhir (929 M-948 M) dapat dikatakan terjadinya masa gelap pemerintahan selama 70 tahun atau sebelum sampai kepada pemerintahan Sri Maharaja Dharmmawangsa Teguh. Hal ini dikarenakan hanya 3 prasasti yang berangka tahun yang tercacat dan sampai kepada kita, yaitu prasasti Hara-Hara tahun 888 Saka (966M), prasasti Kawambang Kulwan tahun 913 Saka (992M), dan prasati Lucem tahun 934 Saka (1012-1013 M). Namun dalam prasasti Pucang dapat diketahui bahwa Pu Sindok mempunyai seorang putri yang jelita bernama Sri Isana Tunggawijaya dan memerintah sebagai ratu dengan suaminya Lokapala. Dari pernikahannya, lahirlah putra Sri Makutawangsawarddhana.Mengenai nama Makutawangsawarddhana perlu diketahui bahwa secara harfiyah yaitu sebagai pelanjut wangsa yang bermahkota atau pelanjut wangsa raja. Ditambah dengan penekanan bahwa ia “putra wangsa Isana” menunjukka bagaimnanpu anak laki-laki dari pramesawari(istri pertama raja) merupakan pewaris tahta yang ideal.[3] Kemudian dari Sri Makutawangsawarddhana lahirlah purti Gunapriyadharmapatni atau Mahendratta yang kemudian menikah dengan Udayana dan berputra Erlanggadewa.
Abad X M muncul beberapa keterangan sejarah,diantaranya dalam kitab Wirataparwwa salinan dalam bahasa Jawa Kuno dari bahasa Sansekerta. Dalam kitab tersebut dituliskan nama-nama raja yang memerintah yaitu Sri Dharmmawangsa Teguh Anantawikrama. Dalam prasasti raja Jayawarsa Digwijaya Sastraprabhumenyebutkan bahwa ia adalah cucu dari Sri Isana Dharmmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa. Hal ini membuktikan kbenaran dari masa pemerintahan Sri Isana Dharmmawangsa Teguh. Selanjutnya yang diperkuat dalam kitab Wirataparwa, yang memerintah pada abad X M sampai tahun 1017 M. Kemungkinan besar ia adalah anak dari Makutawangsawarddhana.
Dalam pemerintahannya, Sri Maharaja Dharmmawangsa Teguh sangat berambisi untuk meluaskan kekuasaannya sampai keluar pylau Jawa. Dalam prasasti Pucangan yang berbahAS Sansekerta disebutkan bahwa beberapa waktu setelah perkawinan Airlangga dengan putri Dharmmawangsa Teguh kerajaan itu hancur karena ulah dewi Kali.Selanjutnya Airlangga melarikan diri ke hutan engan hanya didampingi Narottama. Dalam prasati yang berbahasa Jawa Kuno juga disebutkan dan lebih banyak memberikan keterangan bahwa, akhir dari masa Sri Maharaja Dharmmawangsa Teguh adalah serangan dari raja bawahan Wurawari yang berambisi mendampimgi putri mahkota menggantikan Teguh di atas tahta kerajaan(pralaya). Namun setelelah berhasil melakukan serangan dan menewaskan Sri Maharaja Dharmmawangsa Teguh, Haji Wurawari kembali ke tempat asalnya karena karena ia cukup puas melampiaskan sakit hatinya karena tidak berhasil menjadi menantu Teguh.
Sri Maharaja Dharmmawangsa Teguh kemudian di candikan di Wwtan pada bulan Caitra tahun 939 Saka.