SEBUAH “CERMIN RETAK” MEDIA BARAT


SEBUAH “CERMIN RETAK” MEDIA BARAT

SEBUAH “CERMIN RETAK” MEDIA BARAT

SEBUAH “CERMIN RETAK” MEDIA BARAT
SEBUAH “CERMIN RETAK” MEDIA BARAT

Individuals, especially members of minority groups, derive much of their self-esteem from media images of themselves or people like themselves – perhaps even more than they do from their own personal interactions with othersPeter Berger

What is needed is not legislation but “enhanced social consciousness” that fixes the norms of acceptable behaviour…. Ismail Serageldin

Pada 27 Maret 2008, dunia islam kembali dikejutkan dengan peluncuran FITNA, sebuah film pendek hasil olahan seorang anggota Parlemen Belanda Geert Wilders. Film yang dirilis di website Liveleak , untuk versi Belanda dan Inggris, ini mengeksplorasi motivasi qurani untuk terorisme, universalisme Islam dan Islam di Belanda. Judulnya sendiri sengaja diambil dari bahasa arab fitna yang digunakan untuk mendeskripsikan “ketidaksetujuan dan perpecahan diantara manusia”, atau juga “ sebuah cobaan dan ujian keimanan”1.

Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbanyak, melalui Depkominfo telah menetapkan larangan pada beberapa web site seperti YouTube, MySpace, Rapidshare and Metacafe. Menkominfo Muhammad Nuh menyatakan permohonan maaf atas ketidaknyamanan banyak kalangan atas lahirnya larangan ini.

Tulisan ini berupaya melacak jantung persoalan seputar hubungan penuh “kecurigaan” dan “kebencian” antara media massa barat vs Islam. Selanjutnya penulis mencoba menganalisa model-model pemberitaan di Barat dan Islam serta pengaruh-pengaruh mungkin ditimbulkannya.Pada bagian akhir penulis berupaya memberi catatan-catatan yang bisa menjadi “lesson learned” dari peristiwa “penistaan” Islam lewat rilis FITNA secara luas.

Persoalan Utama
Bila dicermati lebih seksama, pesan yang ingin disampaikan oleh Geertz dalam FITNA adalah sebuah panggilan untuk mengguncang tirani Islam yang mulai merangkak perlahan di Belanda dan mendorong tampilnya Leitkultur , yaitu tradisi kristiani, yahudi, dan humanis untuk bersikap; melawan Islam. Ini, sebenarnya, adalah isu politik local yang disampaikan oleh Geertz dalam kapasitasnya sebagai anggota parlemen di Belanda. Isu ini menjadi sensasional ketika dinikmati oleh berjuta muslim di belahan bumi yang lain ditambah dengan karakter dasar media yang gandrung akan sensasionalitas. Kesengajaan Geertz dalam mencantumkan ayat-ayat Al Qur’an dalam “panggilannya” tersebut memperkuat model pembacaan [media] Barat terhadap Islam yang cenderung mengasosiakan Islam sebagai gerakan politik dibanding gerakan moral, budaya, dan social kemasyarakatan. Inilah inti persoalannya. Bila Islam dipandang dari aspek politik saja serta merta dia dianggap sebagai antitesis yang mengancam eksistensi “system politik ” yang berbeda.

Padahal ada banyak aspek Islam yang bisa menjadi pintu alternatif dalam memasuki khazanah Islam; misalnya, kesenian dan kebudayaan. Di Surabaya, sebuah acara diskusi kerakyatan, Bangbang Wetan, yang dipandu oleh tokoh muslim terkemuka Emha Ainun Najib bisa larut dalam lantunan lagu-lagu slow rock yang sempat jaya di tahun 70-an meski setelah itu ayat-ayat al qur’an berhamburan di sela-sela dialog dengan peserta diskusi. Film Iran “Children of Heaven” yang sangat terkenal juga mendemonstrasikan sisi humanis dunia Islam yang tidak mungkin bisa muncul dalam diskursus politik Islam. Nah, kenyataan semacam ini luput bahkan secara sengaja diabaikan dalam diskursus [media massa] Islam vs Barat.

Sebenarnya tidak menjadi persoalan bila media massa barat menyebarluaskan konsep politik islam secara mondial. Hanya saja dimensi politik Islam yang diambil terlanjur didasari pada asumsi yang keliru. Analis barat terkemuka semacam Bernard Lewis2 dan Samuel Huntington3 telah menulis tentang “akar-akar kemarahan Muslim” dan “benturan peradaban” jauh sebelum teroris menyerang World Trade Center dan Pentagon.

Akibatnya, consciously-unconsciously, ada 3 asumsi dasar, yang seringkali tidak dinyatakan, yang menginspirasi diskusi di Barat berkaitan dengan politik Islam. Pertama, bahwa politik Islam, sebagaimana Islam itu sendiri, bersifat monolitik; kedua, bahwa kekerasan sudah inherent dalam politik islam; ketiga, bahwa “pertautan” antara agama dan politik adalah suatu yang khas Islam. Asumsi-asumsi ini, tentu saja, salah. Bahkan meskipun sebuah argumen dapat dibuat berkaitan dengan kemunculan gerakan politik islam trans nasional namun itu adalah sebuah bagian yang teramat kecil bila merujuk pada praktik politik Islam di dunia.4

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/kendall-kylie-apk/