Sebuah Kekuatan Di Balik Yoga

Sebuah Kekuatan Di Balik Yoga

Yoga berasal dari bhs Sansekerta berarti “penyatuan”, yang berarti “penyatuan dengan alam” atau “penyatuan dengan Sang Pencipta”. Secara harfiah, definisi yoga adalah untuk ‘bergabung dan bersatu secara percuma.’ Nah apa saja yang diusahakan yogi untuk digabungkan dan dipersatukan atau persatuan? Jawabannya terdapat terhadap rencana tiga unsur manusia yang diyakini di dalam agama India kuno. Bagi mereka, manusia terdiri atas tiga bagian, yaitu pikiran, tubuh, dan jiwa. Tujuan akhir seorang siswa yang jalankan praktik yoga adalah untuk mempersatukan ketiga unsur selanjutnya dan mencapai persatuan dengan ‘Sang Tuhan’ atau ‘Pikiran Alam Semesta’.” [1].

Yoga adalah keliru satu jalur keselamatan di dalam Hinduisme, yaitu langkah mencapai Moksa atau kelepasan. Yoga berarti usaha mendisiplin diri untuk merealisasikan kehadiran Tuhan di dalam diri, dan terhitung berarti usaha sesuaikan kapabilitas alam berasal dari roh, dan terhitung sebagai usaha penyatuan diri dengan zat ilahi. “
Yoga merupakan keliru satu berasal dari enam ajaran di dalam filsafat Hindu, yang menitikberatkan terhadap kegiatan meditasi atautapa di mana seseorang memusatkan semua asumsi untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Masyarakat global umumnya mengenal Yoga sebagai aktifitas latihan utamanya asana (postur) anggota berasal dari Hatta Yoga. Yoga terhitung digunakan sebagai keliru satu pengobatan alternatif, umumnya hal ini dikerjakan dengan latihan pernapasan, oleh tubuh dan meditasi, yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih berasal dari 5000 tahun.[2]
Sedangkan pengertian Yoga menurut Ensiklopedi lazim adalah sistim ajaran gaib yang diperkembangkan Hinduisme dengan maksud melewatkan orang berasal dari dunia dambaan seperti yang difahami dengan pancaindera. Pembebasan ini susah dan mungkin perlu beberapa kali usia hidup. Yogi (penganut yoga) yang yakin dapat pantheisme (kepercayaan bahwa dunia dengan segala isinya adalah Tuhan) mencari persatuan dengan jiwa semua alam dunia. Penganut yoga yang atheis (tidak mengakui adanya Tuhan) mencari perasingan yang sempurna berasal dari segala jiwa-jiwa lainnya dan ilmu diri sendiri yang sempurna. Kemudian terakhir yang dicari ialah kemuliaan penerangan sempurna. Para penganut yoga Mengenakan disiplin jasmani untuk mencapai itu: penyucian, kebersihan, samadi, dan latihan. [3]
Orang yang jalankan tapa yoga disebut yogi, yogin bagi praktisi pria dan yogini bagi praktisi wanita. Sastra Hindu yang memuat ajaran Yoga, diantaranya adalah Upaishad, Bhagavad Gita, Yogasutra, Hatta Yoga serta beberapa sastra lainnya.[3] Klasifikasi ajaran Yoga tertuang di dalam Bhagavad Gita, diantaranya adalah Karma Yoga/Marga, Jnana Yoga/Marga, Bakti Yoga/Marga, Raja Yoga/Marga.
Di India, di dalam kitab Upanishad dijumpai ajaran mistik (kebatinan) Hindu yang mengajarkan ‘usaha penyatuan zat manusia (atman) dengan zat semesta (brahman),’ usaha mana dikerjakan dengan praktik meditasi, ilmu mistik dan latihan pernafasan. Zat itu dinamakan Prajapati yang di dalam Upanishad Svetasvatara disebut: “Aku (self) itu adalah api, matahari, angin, bulan; serupa terhitung dengan langit berbintang, itu adalah Brahman, air, Prajapati.” (Lin Yu Tang, The Wisdom of China & India, hlm.50. A.G. Honig di dalam buku ‘Ilmu Agama I,’ menyebut hubungan antara ‘zat’ itu dan ‘manusia’ berikut: “Pada hekekatnya cuma ada satu zat, yaitu yang ‘ada’. ‘Zat’ ini sanggup disebut ‘Prajapati’, tapi ia tidak dibayangkan sebagai dewa yang berpribadi, yang berdiri di luar dunia, melainkan ‘dasar segala hal’ yang tidak berpribadi. Untuk memperlihatkan ‘dasar segala hal’ itu, upanishad-upanishad selalu Mengenakan makna ‘Brahman.’
Di di dalam upanishad-upanishad mulailah manusia mendapat perhatian yang besar. Di sini manusia dipandang sebagai cermin dunia. Segala energi kapabilitas alam semesta itu bersua di di dalam manusia seperti sinar sinar yang bersua terhadap titik api. Agni, dewa api, Vayu, dewa angin, dan dewa-dewa lainnya berkedudukan di di dalam manusia. Dengan konsekwen, maka manusia dilukiskan sebagai mikro-kosmos.’ Suatu asumsi yang lebih lanjut ialah: Kalau dunia ini terhadap hakekatnya satu, maka manusia pun terhadap hakekatnya adalah satu juga.
Yang dimaksud dengan itu ialah, bahwa segala energi kapabilitas di di dalam manusia cuma mempunyai satu basic kapabilitas saja. … Maka perkataan yang dipakai orang untuk memperlihatkan kesatuan hidup yang terdalam terhadap manusia ialah ‘atman,’ sebuah perkataan yang asal awalnya berarti nafas.” (hlm.85).
Sejarah Yoga
Ajaran Yoga dibangun oleh Maharsi Patanjali (sekitar 2.500 SM), dan merupakan ajaran yang amat kondang di kalangan umat Hindu. Ajaran yoga merupakan ilmu yang berupa praktis berasal dari ajaran Veda. Yoga berakar berasal dari kata Yuj yang berarti berhubungan, yaitu bertemunya roh individu (atman/purusa) dengan roh universal (Paramatman/Mahapurusa). Maharsi Patanjali membatasi yoga sebagai Cittavrttinirodha yaitu penghentian gerak pikiran. Sastra Yogasutra yang ditulis oleh Maharsi Patanjali, yang terbagi atas empat anggota dan secara keseluruhan punya kandungan 194 sutra. Bagian pertama disebut: Samadhipada, sedangkan anggota ke-2 disebut:Sadhanapada, anggota ketiga disebut: Vibhutipada, dan yang terakhir disebut:Kailvalyapada.
8 Tahapan Untuk Yoga
Berdasar terhadap tulisan tertua tentang yoga yang dibuat oleh seorang tokoh legenda bernama Patanjali (sekitar 2.500 SM), ada langkah atau tahap-tahap khusus yang mesti di lewati seorang manusia untuk menguasai atau mengenal yoga. Tahapan selanjutnya berupa 8 langkah atau tingkatan yang dikenal dengan makna Astanga (Asthangga), Asta = 8, tanga = Tangga, atau 8 tingkatan (tangga). Tingkatan selanjutnya berupa :
Yama
Kontrol etis, perlakuan kami terhadap aspek eksternal di dalam kehidupan
2. Niyama
Penguasaan spiritual di dalam memelihara kemurnian hidup sebagai manusia ciptaan Tuhan
3. Asana
Rangkaian gerak postur untuk melatih serta memelihara terhitung tingkatkan kegunaan semua anggota tubuh
4. Pranayama
Seni pernapasan yang sanggup tingkatkan kualitas kehidupan secara menyeluruh
5. Pratyahara
Penguasaan diri yang berupa internal. Kemampuan untuk fokus terhadap apa yang ada di dalam ‘diri seorang manusia’.
6. Dharana
Konsentrasi, apabila kami sanggup memelihara fokus tadi secara lebih intens.
7. Dhyana
Sebuah level di mana fokus tadi jadi suatu hal yang berupa otomatis, panjang tapi tanpa beban. Pelakunya sanggup mengakibatkan diri mereka fokus penuh konsentrasi tapi keluar luar biasa relaks serta nyaman.
8. Samedhi
Saat semua pencapaian positif selanjutnya telah termanifestasi di dalam semua aspek kehidupan sang manusia pelaku yoga.
Falsafah Yoga Menurut Agama Non Islam
Falsafah yoga hampir diterima oleh semua agama, tapi Islam tidak pernah menerima falsafah yoga. Islam merupakan agama yang amat mementingkan eksklusivisme yaitu perbedaan yang mendasar di dalam hal yang tentang dengan rencana ketuhanan. Contoh penerimaan agama lain terhadap yoga adalah sebagai berikut:
a) Yoga Hindu: Mengatakan bahwa kami sanggup bersatu dengan Tuhan dengan Roh tetap ada di dalam tubuh, dikala seseorang itu tetap hidup di dunia ini [4]. Jalan akhir keluar berasal dari dukkha dan samsara yang terus menerus berjalan ini hendaklah studi cara-cara mengamalkan Yoga dengan sungguh-sungguh. [5]
b) Yoga Buddha: Hasil berasal dari pertapaannya, Gautama Buddha mendapat Kegemilangan Rohaniah ( Enlightened ).
c) Yoga Yahudi: Yahudi terhitung menerima Yoga. Mereka pakai langkah yang serupa seperti latihan bernafas, membaca mantra dan jalankan pose-pose tubuh khusus (Asana) untuk mencapai kesadaran Ilahi (consciousness) [6]
d) Yoga Kristian: Kepercayaan Yoga Kristian ialah “Kesatuan Roh dengan Tuhan”, berarti Yoga sesuai dengan Kristian. Yoga Kristian menyatakan bahwa kami bersatu dengan Allah selepas mati.[7]

Yoga dan Kekuatan Siddhi ( Metafisik)
Kemampuan seperti ‘clairaudience’ (mendengar suara yang tak sanggup didengar oleh telinga manusia normal),‘clairvoyance’ (kemampuan untuk menyaksikan obyek yang atidak ada didepan indrya mata), dan ‘telepathy’ (kemampuan untuk mengirim dan menerima pikiran) adalah beberapa Siddhi (occult power) yang dikenal oleh manusia. Begitu pula kapabilitas untuk mengadakan dan menyingkirkan suatu hal sesuai dengan permohonan disebut terhitung Siddhi.
Menurut agama Hindu, Siddhi dikembangkan di dalam diri manusia dengan mengangkat kapabilitas Kundalini atau kapabilitas ular lewat saraf tulang belakang. Kekuatan Kundalini ini berada terhadap ‘Muladhara’ di balik organ seksual terhadap basic berasal dari saraf tulang belakang manusia. Diyakini bahwa dikala seorang manusia berkembang secara spiritualitas, kapabilitas ini bangkit secara perlahan dan bergerak melewati enam pusat (Chakra) di saraf tulang belakang (spinal cord) dan selanjutnya jadi satu terhadap titik paling atas di dalam otak yang disebut ‘Sahasrara‘. Pada titik itu orang selanjutnya mengembangkan Siddhi.
Ada beberapa praktisi yoga menggabungkannya dengan ilmu beladiri. Seperti Perguruan Olah Raga Tenaga Dalam CAKRA MURTI (PORTEDA CAKRA MURTI atau PCM) adalah sebuah perguruan olah raga bela diri yang berdasarkan terhadap tenaga di dalam yang diperoleh dengan jalankan senam pernafasan yoga yang telah dimodifikasi. Para pengikut aliran ini yakin bahwa tenaga di dalam tidak cuman sanggup digunakan sebagai bela diri, tingkatkan kesehatan, sanggup terhitung dipakai untuk pengobatan dan pengobatan alternatif bagi diri sendiri maupun orang lain.
Menurut para praktisi PCM, olah raga ini mempunyai keunikan tersendiri yaitu simpul-simpul kapabilitas yang berada di di dalam tubuh astral atau cakra. Bagi para praktisi yoga dikenal sebagai cakra yang merupakan anggota halus berasal dari tubuh mereka. Keberhasilan seseorang studi yoga sanggup diukur berasal dari terbukanya cakra-cakra yang terdapat terhadap tubuhnya. Di di dalam tubuh manusia, cakra yang telah aktif berguna sebagai kendali, penggerak dan pemberi energi hidup kepada alat-alat organ tubuh manusia. Juga merupakan alat pusat energi psikis fungsi keseimbangan antara ke empat buah kegunaan utamanya, yaitu : berfikir, merasakan, sentuhan dan intuisi. Berdasarkan ajaran yoga bahwa di di dalam tubuh manusia terdapat tujuh cakra utama yang merupakan pusat energi psikis, antara lain: Cakra basic (muladara cakra), cakra pusar (manipura cakra), cakra pankreas, cakra jantung, cakra tenggorokan (vishuda cakra), cakra mahkota (sahasaea cakra)- para anggotanya ternyata sanggup dirangsang untuk diakifkan/dibuka cakranya oleh Guru Besar di dalam tempo yang relatif singkat (kurang berasal dari 5 menit). Dengan terbukanya cakra tersebut, seterusnya terhadap anggotanya tinggal berlatih merasakan getaran, menghidupkan dan tingkatkan tenaga dalam, dan studi pakai secara efisien lewat latihan rutin.
Sebagian praktisi yoga berdalih bahwa mereka mengikuti kegiatan ini cuma semata untuk kebugaran dan kebugaran. Para praktisi PCM misalnya, merasakan bahwa di dalam tempo 4 bulan saja mereka merasakan peningkatan kebugaran yang amat signifikan. Dan bagi yang baru masuk, suasana fisik dan kesehatannya sebetulnya baik dirasakan jadi lebih fit. Mereka terhitung merasakan lebih safe dan yakin diri. Namun ada terhitung yang mengklaim telah sanggup pakai tenaga dalamnya untuk mendeteksi kapabilitas (getaran) jarak dekat dan jauh, mengirim kapabilitas (transfer power) jarak dekat dan jauh, mengakibatkan diri kebal dapat pukulan dan senjata tajam, pemecahan benda-benda keras, terhitung untuk menyerang dan bertahan dengan pakai tenaga di dalam dan lain-lain.

Hakikat Siddi
Sesungguhnya beberapa Siddhi (occult power) yang dikenal oleh manusia seperti ‘clairaudience’ (mendengar suara yang tak sanggup didengar oleh telinga manusia normal), ‘clairvoyance’ (kemampuan untuk menyaksikan obyek yang tidak ada didepan indrya mata), dan ‘telepathy’ (kemampuan untuk mengirim dan menerima pikiran) peringan tubuh dan kapabilitas psikis atau kesaktian lainnya seperti sanggup berjalan diatas air, kebal senjata, bicara dengan binatang, berjalan diatas api atau perkara-perkara luar biasa lainnya adalah tipuan setan sanggup kami ketahui kalau kami kembali terhadap Al-Qur’an dan sunnah.
Imam Al-Laits bib Sa’ad pernah berkata:”Jika kalian menyaksikan seorang laki-laki berjalan di atas air janganlah terpedaya dengannya sampai kalian cocokkan keadaannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.”Ketika ucapan ini sampai ke telinga Imam Asy-Syafi’i beliau berkata:”Tidak itu saja, semoga Allah merahmati beliau,bahkan kalau kalian menyaksikan seorang lelaki berjalan diatas bara api atau melayang di udara maka janganlah terpedaya dengannya sampai kalian cocokkan keadaannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
Sebab kesaktian dan kedigdayaan yang dimiliki seseorang yang banyak berbuat maksiat dan kesyirikan itu hakikatnya berasal berasal dari bantuan atau bahkan persengkokolan dengan makhluk halus!
Sementara Allah telah mengecam orang-orang yang meminta bantuan kepada bangsa Jin.
Firman Allah SWT:“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta bantuan kepada beberapa laki-laki diantara jin,maka jin-jin itu tingkatkan bagi mereka dosa dan kesalahan”(QS.Jin:6)

Baca Juga :