Sejarah Kerajaan Lasem

Sejarah Kerajaan Lasem (1351-1479)

Sejarah Kerajaan Lasem (1351-1479)

Sejarah Kerajaan Lasem

Sejarah Kerajaan Lasem

 

KONDISI GEOGRAFIS LASEM

Lasem berada di pesisir pantai utara pulau Jawa dengan suasana tropis, tanah yang subur, hutan, pegunungan serta bentang pantai yang memanjang. Di Lasem terdapat banyak teluk – teluk yang melatar belakangi daerah Lasem berkembang menjadi daerah pelabuhan yang besar pada masanya. Hal ini menjadikan kawasan Lasem sebagai lalu lintas perdagangan antar kerajaan pada masa lampau. Selain garis pantai yang membentang, Lasem juga terdapat daerah dataran serta lembah yang terletak di selatan garis pantai. Di sisi timur Lasem terdapat sebuah gunung bernama Gunung Argopuro.

KERAJAAN LASEM

Penamaan Kerajaan Lasem pertama kali disebut dalam piagam Singosari yang berangka tahun 1273 saka atau 1351 Masehi. Kerajaan Lasem pertama kali dipimpin oleh seorang ratu bernama Ratu Duhitendu Dewi (Indu Dewi) yang bergelar Bhre Lasem. Dewi Indu merupakan sepupu dari Hayam Wuruk, Raja Majapahit. Dari piagam Singosari tersebut menyebutkan bahwa Lasem sebelum 1351 M bukanlah daerah yang penting. Dapat disimpulkan bahwa kemungkinan Lasem telah ada sebelum tahun 1351 M atau bahkan sudah ada pada zaman Kerajaan Kediri sekalipun hanya sebagai daerah setingkat pakuwu atau kadipaten.

Keberadaan Lasem

Keberadaan Lasem sebagai kerajaan yang berdaulat diperkuat oleh Nagarakertagama yang menyebutakan ketika Arya Wiraraja ayahanda Nambi sakit keras di Lumajang, orang – orang penting Kerajaan Majapahit datang untuk menjenguknya. Salah satu dari rombongan tersebut adalah Adipati Lasem atau “Ra Lasem“, seorang loyalis Raden Wijaya yang membantu dalam pendirian Kerajaan Majapahit. Sayangnya Jayanegara, raja yang memimpin Majapahit pada masa itu terhasut oleh omongan Mahapati, bahwa Nambi sedang merencanakan pemberontakan untuk menyerang Kerajaan Majapahit dan sedang menghimpun kekuatan di Lumajang. Jayanegara kemudian mengirim pasukan untuk menggempur Lumajang. Nambi dan pasukannya akhirnya gugur oleh serbuan pasukan Jayanegara termasuk Adipati Lasem yang ikut membela Patih Nambi.

Dari sepengga kisah

Dari sepengga kisah tersebut bisa disimpulkan bahwa sebelum adanya piagam Singosari tahun 1273 saka atau 1351 Masehi, Lasem sudah ada sebagai suatu daerah berdaulat. Kitab Nagarakertagama juga menyebutkan bahwa Bhre Lasem pertama Duhitendu Dewi merupakan salah satu penguasa dari 11 kerajaan khusus di Jawa. Ia  juga menjadi salah satu dari sembilan Dewan Petimbangan Agung Kerajaan Majapahit. Dengan adanya statement ini, bisa disimpulkan bahwa Bhre Lasem mempunyai peranan istimewa di Kerajaan Majapahit. Bila kerajaan – kerajaan lain taklukan Majapahit diatur dalam undang – undang kerajaan Majapahit, berbeda dengan ke sebelas kerajaan yang dikuasakan kepada kerabat raja Majapahit. Kesebelas kerajaan ini merupakan penopang Kerajaan Majapahit baik dalam sisi sosial, ekonomi dan politik bagi keberlangsungan imperium Majapahit di Nusantara.

Sebelas kerajaan dalam Piagam Singosari tahun 1351 M :

Kerajaan Daha

Kerajaan Wengker

Kerajaan Mataun

Kerajaan Lasem

Kerajaan Pajang

Kerajaan Paguhan

Kerajaan Kahuripan

Kerajaan Singasari

Kedelapan Dewan Pertimbangan Agung Kerajaan Majapahit :

Hayam Wuruk sebagai Ketua

Tribuana Tunggadewi

Sri Kerta Wardhana

Sementara itu, dalam Pararaton menyebutkan “Adapaun adik perempuan Hayam Wuruk, Bhre Lasem, menikah dengan Raja Matahun Rajasawardhana; sedangkan adik termuda, Bhre Lasem menurunkan putri bernama Nagarawardhani, yang kemudian dinikahkan dengan putra Hayam Wuruk dari selir, bernama Bhre Wirabhumi. Bhre Wirabhumi nikah dengan Bhre Lasem sang Alemu (Bhre Lasem yang gemuk / Bhre Lasem III)”.  Dengan begitu, Nagarawardhani dalam Nagarkertagama sama dengan Bhre Lasem jeng Alemu dalam Pararaton.

Selama 120 tahun

Selama 120 tahun, Lasem dipimpin oleh lima orang ratu. Pengangkatan perempuan sebagai pemimpin kerajaan senada dengan apa yang ada di Kerajaan Majapahit dengan diangkatnya Tribhuana Tungga Dewi dan Diyah Wiyat sebagai raja yang berkuasa di Kahuripan dan Dhaha.

Masa Pemerintahan Duhitendu Dewi (Bhre Lasem I)

Wilayah Lasem pada masa Duhitendu Dewi begitu luas. Bhre Lasem menikah dengan Bhre Matahun, dengan demikian kedua wilayah kerajaan vasal ini menyatu atas hubungan perkawinan. Selain menjabat sebagai Bhre Matahun, Rajasa Wardhana juga menjabat sebagai seorang panglima perang yang memiliki pangkalan laut di pelabuhan Lasem, tepatnya di teluk Regol (Bonang Binangun) dan Kairingan (Pantai Kiringan, Caruban, Gedong Mulyo). Salah satu dari dua pelabuhan tersebut menjadi bandar perniagaan besar dengan Rajasa Wardhana sebagai Dampoawangnya (syahbandar).

Dalam Carita Lasem diceritakan

Dalam Carita Lasem diceritakan “Lasem sebagai kota raja yang nyaman, tertata dengan asri dan indah. Keratonnya terletak di bumi Kriyan menghadap ke arah laut dengan agungnya. Di dalamnya terdapat kompleks – kompleks bangunan, balai kambang yang luas, Taman Kamala Puri dan Taman Sari yang teratur dan indah. Di sepanjang jalan – jalan negeri berbagai pepohonan, mandira, sawo kecik berjajar di kiri dan kanan jalan membuat keteduhan.

Di setiap perempatan jalan terdapat pohon beringin yang merindang. Pemukiman penduduk tertera dan terpola dengan bentuk joglo berbahan kayu jati yang depannya berteras, halamannya luas serta dipenuhi dengan pepohonan dan bunga – bungaan. Sementara di pedesaan keseburan tanah – tanah olahan para penduduk dengan hasil persawahan dan perkebunan yang melimpah.

Dewi Indu (Duitendu Dewi) adalah seorang ratu yang sangat dicintai rakyatnya dan ia pun dijuluki sebagai titisan dari Sang Bathari. Ia memerintah Kerajaan Lasem dengan adil dan bijaksana, pengayom rakyat dengan kekuasaannya yang lurus lagi kuat”.

Duhitendu Dewi sebagai Bhre Lasem menikah dengan Rajasa Wardhana sebagai Bhre Matahun. Dua pemimpin kerajaan tersebut kemudian meleburkan wilayah kekuasaannya menjadi satu. Rajasa Wardhana kemudian mengubah Lasem sebagai pangkalan laut Majapahit dengan Teluk Regol dan Kairingan sebagai pangkalan utama kapal tempur dan kapal ekspedisi Majapahit. Tak jauh dari wilayah ini juga terdapat galangan kapal untuk memproduksi kapal tempur dan kapal niaga Kerajaan Majapahit.

Lasem menjadi semakin ramai dari masa ke masa berkembang menjadi wilayah perdagangan antar negeri. Dari pasangan Bhre Lasem dan Bhre Matahun kemudian melahirkan Negara Wardani yang kemudian menjadi pemimpin Lasem selanjutnya (Bhre Lasem kedua) dan diperistri Bhre Wirabumi.

Dalam naskah lain menyebutkan bahwa pasangan Duhitendu Dewi dan Rajasa Wardhana menurunkan pangeran Badra Wardana yang kemudian melahirkan dinasti Rajasa Wardana dan menjadi pembesar Lasem hingga abad ke 18.

Bhre Lasem Duhitendu Dewi meninggal pada tahun 1382 M sedangkan Rajasa Wardhana meninggal pada tahun 1383 M. Sebelum Duhitendu Dewi meninggal, jabatan Bhre Lasem sudah diserah terimakan pada Kusuma Wardhani, putri Hayam Wuruk yang sebelumnya telah menikah dengan Wikrama Wardhana.

Pada saat itu, Duitendu Dewi dipindahkan menjadi Bhre Daha / Kediri menggantikan ibunya Dyah Wiyat Raja Dewi yang wafat. Namun, baik dari NagarakertagamaPararaton maupun Carita Lasem tidak menyebutkan secara pasti tahun pergeseran jabatan Duhitendu Dewi menjadi Bhre Daha tersebut.

 

Sumber : https://dosen.co.id