Upaya Penyelesaian Krisis Teluk I

Upaya Penyelesaian Krisis Teluk I

Upaya Penyelesaian Krisis Teluk I
Krisis Teluk I menjadi sumber keresahan negara-negara yang mengandalkan minyak kawasan Teluk Parsi, lebih-lebih karena dapat meluas & melibatkan negara-negara penghasil minyak kawasan. Jika ini terjadi maka bisa saja besar banyak ladang minyak negara-negara itu akan dihancurkan & Selat Hormuz ditutup agar ekspor minyak mereka sebanyak 17, 4 juta barrel perhari akan berhenti atau benar-benar menurun. Dengan demikianlah negara-negara pengimpor minyak itu akan mendapat pukulan berat lebih-lebih jikalau suasana terjadi lama. Mereka akan kekurangan minyak untuk industri & kehidupan mereka.

Semakin lama perang Irak & Iran makin lama besar & lebih beresiko ulang akan banyak negara-negara Teluk lain yang akan terseret. Negara-negara Arab kawasan terhadap biasanya memihak Irak sebagai negara yang memperjuangkan kepentingan-kepentingan Arab. Iran dapat merasa terpojok & menyerang ladang-ladang minyak mereka & menutup Selat Hormuz. Pada waktu instalasi-instalasi minyak Irak & Iran terbakar menjadi benar-benar jelas bahwa kedudukan Kuwait, Arab Saudi, Qatar & Uni Emirat Arab benar-benar rawan.

Berdasarkan efek yang dirasakan dalam Krisis Teluk I, maka Amerika Serikat & Uni Soviet tidak cuma mengikuti jalannya peperangan bersama seksama, namun terhitung mengambil alih langkah-langkah untuk mengamankan kepentingan-kepentingan mereka & bisa saja terhitung memperbaiki kedudukan masing-masing. Bagi Washington, Krisis Teluk I terhitung merupakan suatu peluang untuk memulihkan kedudukannya di kawasan. Demikian terhitung bagi saingannya Uni Soviet dapat terbuka peluang untuk mendukung unsur-unsur kiri di Irak maupun di Iran jikalau terjadi perebutan kekuasaan akibat kekalahan dalam peperangan itu. Keberhasilan golongan kiri untuk merebut kekuasaan di salah satu negara akan memperbaiki kedudukan Uni Soviet di kawasan, lebih-lebih jikalau Uni Soviet berhasil memasang orang-orangnya terhadap puncak kekuasaan layaknya terjadi di Afganistan.

Amerika Serikat & Uni Soviet sudah sepakat untuk tidak campur tangan dalam peperangan ini. Pertama, karena jelas bahwa intervensi yang satu akan memancing intervensi yang lain & bersama demikianlah terjadi konfrontasi bersenjata pada mereka. Kedua, ketelibatan AS & Uni Soviet dalam Krisis Teluk I cuma akan mempersulit penyelesaian sengketa Irak & Iran. Ketiga, jikalau AS & Uni Soviet melakukan intervensi dalam krisis Teluk I, maka akan dikutuk oleh negara-negara lain yang mengusahakan halangi konflik itu & menyelesaikannya secara damai. Selanjutnya ke-2 super power berkepentingan bahwa peperangan ini senantiasa terbatas terhadap ke-2 negara & tidak ada pihak yang nampak sebagai pemenang.

Kemenangan salah satu pihak akan membawa akibat-akibat yang nyata-nyata bagi pemerintah negara yang kalah & dapat mengubah perimbangan kapabilitas global superpower di kawasan. AS terhitung berkepentingan bahwa peperangan ini tidak melibatkan negara-negara lain di kawasan mereka jelas bahwa perihal itu akan mengganggu keamanan arus minyak dari Teluk ke negara-negara lain di kawasan karena jelas bahwa perihal itu akan mengganggu keamanan arus minyak dari Teluk ke negara-negara Barat & Jepang. Iran sudah mengancam akan menyerang negara-negara lain di kawasan yang mendukung Irak & membawa kapabilitas untuk menghancurkan instalasi-instalasi minyak mereka. Selain itu, di dapat menutup selat Hormuz agar terhitung menghentikan arus minyak. Oleh karena itu, AS mengusahakan sekuat tenaga untuk menahan negara-negara lain mendukung Irak & menandaskan bahwa pengiriman empat persawat peringatan dini (AWACS) ke Arab Saudi semata-mata untuk memperkuat pertahanan negara & bahwa Washington senantiasa berniat netral dalam Krisis Teluk I.

Namun, terhadap suatu waktu godaan bagi Uni Soviet untuk turun tangan dalam Krisis Teluk I dapat menjadi lebih besar. Dengan menguasai kawasan Teluk Parsi, Uni Sovite dapat menundukkan negara-negara Eropa Barat & Jepang karena Eropa Barat mengimpor 63% kebutuhan minyaknya di kawasan, Jepang 73% & Amerika Serikat 30%. Washington sudah pertimbangkan bisa saja itu & mengambil alih langkah-langkah untuk mencegahnya menjadi kenyataan. Sejak pergolakan di Iran, Amerika Serikat tingkatkan kapabilitas militernya di perairan sekitarnya & menyusul invasi Uni Soviet ke Afganistan, Presiden Carter tunjukkan kawasan Teluk Parsi sebagai kepentingan signifikan Barat & menegaskan tekadnya untuk membelanya bersama segala cara, terhitung langkah militer. Oleh karena itu pembentukan Pasukan Gerak Cepat (Rapid Deployment Force) dipercepat. Pasukan Gerak Cepat pertama-tama dimaksud untuk menahan invasi Uni Soviet ke kawasan. Washington jelas bahwa sejak beberapa waktu Uni Soviet memusatkan 24 divisi di perbatasan Iran-Uni Soviet. Untuk memperbaiki logistik bagi Pasukan Gerak Cepat, Amerika Serikat tingkatkan pangkalan laut & udaranya di Diego Garcia, memasang 7 kapal penuh muatan senjata & suplai disitu & merundingkan fasilitas-fasilitas bersama Oman, Somalia, & Kenya.

Pasukan Gerak Cepat ternyata tidak membawa kapabilitas untuk menumpas invasi Uni Soviet ke kawasan. Pasukan Gerak Cepat bukan tanding bagi kapabilitas militer yang dapat dikerahkan bersama cepat oleh Uni Soviet. Pasukan Gerak Cepat terhadap awalannya bertujuan untuk tunjukkan kepada lawan & teman bahwa pasukan-pasukan Uni Soviet jikalau melintasi perbatasan Iran akan ditembak & bahwa suatu bisnis di Uni Soviet untuk menguasai kawasan Teluk Parsi akan mengobarkan suatu konfrontasi super power yang gampang meningkat menjadi suatu kofrontasi nuklir bersama segala akibatnya. Tetapi trick deterrence itu dapat gagal. Uni Soviet dalam suasana khusus dapat menyerbu Iran bersama harapan dapat menguasainya bersama cepat sebelum AS dapat berbuat sesuatu untuk menggagalkannya. Walaupun bisa saja itu tidak besar karena persiapan invasi serupa itu dapat memakan waktu & dapat diketahui agar AS dapat lebih dulu mengerahkan Pasukan Gerak Cepatnya.

Baca Juga :